Pelajari tujuh syarat La ilaha illa Allah berdasarkan Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman Salaf.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, dan para sahabatnya.
Syahadat tauhid, yaitu “La ilaha illa Allah” (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), merupakan fondasi Islam. Namun, sekadar mengucapkan kalimat ini tidaklah cukup. Para ulama telah menjelaskan bahwa syahadat ini memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi agar memberikan manfaat bagi seseorang.
Syekh Hafizh al-Hakami (rahimahullah) merangkum syarat-syarat tersebut dalam bait syairnya yang terkenal:
“Ilmu, keyakinan, penerimaan, dan ketundukan.
Maka dengarkanlah apa yang aku katakan.
Kejujuran, keikhlasan, dan cinta.
Semoga Allah memberimu taufik kepada apa yang Dia cintai.”
Sullam al-Wusul
1. Ilmu (العلم)
Syarat pertama adalah ilmu, yaitu mengetahui apa yang dinafikan dan apa yang ditetapkan oleh kalimat La ilaha illa Allah. Seseorang harus memahami bahwa seluruh ibadah hanya milik Allah semata, dan setiap sesembahan selain-Nya harus ditolak.
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”
Al-Qur'an, Surah Muhammad 47:19
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang mereka mengetahui.”
Al-Qur'an, Surah Az-Zukhruf 43:86
“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, maka ia akan masuk surga.”
Sahih Muslim 26
2. Keyakinan (اليقين)
Syarat kedua adalah keyakinan. Seorang Muslim harus meyakini syahadat ini dengan keyakinan yang sempurna tanpa sedikit pun keraguan.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu...”
Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat 49:15
“Bersaksilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan dua kalimat ini tanpa keraguan padanya kecuali ia akan masuk surga.”
Sahih Muslim 27
“Siapa saja yang engkau temui di balik tembok ini yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dengan keyakinan dalam hatinya, maka berilah ia kabar gembira dengan surga.”
Sahih Muslim 31
3. Penerimaan (القبول)
Syarat ketiga adalah menerima segala konsekuensi yang terkandung dalam La ilaha illa Allah, baik secara lahir maupun batin.
“Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘La ilaha illa Allah’, mereka menyombongkan diri.”
Al-Qur'an, Surah As-Saffat 37:35
Allah mencela orang-orang kafir karena mereka menolak menerima kebenaran dan dengan sombong menolak tauhid.
“Apakah dia menjadikan semua sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan!”
Al-Qur'an, Surah Sad 38:5
“Bahkan dia (Muhammad ﷺ) datang membawa kebenaran dan membenarkan para rasul.”
Al-Qur'an, Surah As-Saffat 37:37
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus bersamaku adalah seperti hujan yang lebat yang turun ke bumi...”
Sahih al-Bukhari 79; Sahih Muslim 2282
Orang yang menerima petunjuk Allah dan mengamalkannya akan memperoleh manfaat, sedangkan orang yang menolaknya tidak akan mendapatkan manfaat apa pun.
4. Ketundukan dan Mengikuti (الانقياد)
Syarat keempat adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah dan menaati perintah-perintah-Nya.
“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan dia berbuat ihsan, maka sungguh dia telah berpegang pada tali yang paling kuat.”
Al-Qur'an, Surah Luqman 31:22
Tali yang paling kuat yang disebutkan dalam ayat ini adalah La ilaha illa Allah.
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
Diriwayatkan oleh an-Nawawi dalam Al-Arba'in; dinilai sahih atau hasan oleh sejumlah ulama
Iman yang benar menuntut ketaatan dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad ﷺ.
5. Kejujuran (الصدق)
Syarat kelima adalah kejujuran. Seseorang harus benar-benar meyakini dalam hatinya apa yang diucapkannya dengan lisannya.
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”
Al-Qur'an, Surah Al-'Ankabut 29:2-3
“Di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal mereka sebenarnya tidak beriman.”
Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah 2:8
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya dengan jujur dari hatinya, melainkan Allah akan mengharamkannya dari neraka.”
Sahih al-Bukhari 128; Sahih Muslim 32
6. Keikhlasan (الإخلاص)
Syarat keenam adalah keikhlasan. Ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah semata tanpa sedikit pun kesyirikan.
“Ingatlah, agama yang murni hanyalah milik Allah.”
Al-Qur'an, Surah Az-Zumar 39:3
“Hanya kepada Allah aku beribadah dengan memurnikan agamaku untuk-Nya.”
Al-Qur'an, Surah Az-Zumar 39:14
“Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah dengan ikhlas dari hatinya.”
Sahih al-Bukhari 99
7. Cinta (المحبة)
Syarat ketujuh adalah mencintai kalimat ini, mencintai kandungannya, mencintai Allah, dan mencintai orang-orang yang berpegang teguh kepada tauhid.
“Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah 2:165
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.”
Sahih al-Bukhari 15; Sahih Muslim 44
Iman yang benar tidak dapat dipisahkan dari cinta yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Ringkasan
Syarat-syarat La ilaha illa Allah adalah:
- Ilmu
- Keyakinan
- Penerimaan
- Ketundukan dan Mengikuti
- Kejujuran
- Keikhlasan
- Cinta
Barang siapa memenuhi syarat-syarat ini secara lahir dan batin, maka dia benar-benar telah mewujudkan makna La ilaha illa Allah dan telah berpegang pada tali yang paling kokoh yang tidak akan pernah putus.
Dan Allah Yang Mahatinggi lebih mengetahui.